Bahaya Kultur Pemborosan di Zaman Modern

Ad Widget
ilustrasi/Dok. ist

Nusantaraaktual.com, Jakarta – PAUS Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si (LS) mendeteksi kultur pemborosan (throwaway culture) sebagai penyebab kerusakan lingkungan. Kultur atau kebiasaan boros dalam memanfaatkan alam telah menyebabkan polusi, perubahan iklim, kelangkaan air, punahnya keanekaragaman hayati, yang mengancam kepunahan manusia (LS.22). Diagnosis ini sangat tepat mengungkap penyebab terdalam di balik makin rusak dan hancurnya lingkungan hidup, terutama sejak 1950-an.

Istilah “kultur pemborosan” pertama kali digunakan Life Magazine dalam artikel “Throwaway Living” (1955). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan cara hidup manusia modern yang sangat dipengaruhi kultur konsumerisme, dunia ditandai produksi dan konsumsi berlebihan kebutuhan manusia.

Logika konsumeristik menginjeksikan kesadaran palsu, kebutuhan manusia tak hanya bersifat tak terbatas, tapi juga mustahil terpuaskan dalam sekali pemakaian barang pemuas kebutuhan. Pemuas kebutuhan terus diakses hingga tingkat pemenuhannya tak lagi dilihat sebagai “kebutuhan” yang sebenarnya. Di sini, kita menghadapi gaya hidup (life-style) yang ditandai penumpukan dan pemborosan.

Apa kaitannya dengan kerusakan atau kehancuran alam seperti disinyalir Paus? Sebagai ilustrasi, laporan Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2019 menyebutkan, terjadi pemborosan sepertiga dari total produksi makanan, sekitar 1,3 milyar ton per tahun. Pemborosan produksi ini –umumnya dibuang– mencapai US$750 miliar atau sekitar Rp 9.750 triliun (US$1 = IDR13.000).

Di Indonesia, pemborosan makanan cukup mencengangkan. World Food Production tahun 2020 memperkirakan, Indonesia memproduksi lebih dari 300 kg makanan per kapita per tahun. Yang digunakan hanya mencapai 110 kg per kapita. Sisanya dibuang.

Jika jumlah penduduk Indonesia tahun 2020 sekitar 255 juta, total produksi makanan diperkirakan mencapai 76,5 juta ton. Dari jumlah itu, konsumsi riil masyarakat hanya mencapai 28 juta ton. Hampir 50 juta ton sisanya dibuang.

Mari kita buat lebih dramatis. Menurut www.nationalgeographic.com, untuk menghasilkan 1 ton beras dibutuhkan 3,4 juta liter air. Maka untuk menghasilkan 76,5 juta ton beras dibutuhkan lebih dari 260 miliar meter kubik air. Memboroskan hampir 50 juta ton produksi berarti memboroskan hampir 170 milyar meter kubik air; belum termasuk luasnya lahan yang dipakai. Jika 1 ha tanah menghasilkan 5 ton padi, dibutuhkan 15 juta ha untuk memproduksi makanan di Indonesia. Dari luas sawah itu, ternyata kita memboroskan hampir 10 juta ha untuk memproduksi makanan yang kita buang.

Kini Indonesia memiliki kurang dari 10 juta hektare sawah. Artinya, untuk memproduksi kebutuhan makanan, kita harus menambah sekitar 5 juta hektare. Kenyataannya, areal sawah kita kian berkurang karena tekanan jumlah penduduk. Bisa diperkirakan, penambahan lahan pertanian baru akan menekan kelangsungan hutan. Dampaknya pun mengerikan jika perambahan hutan identik dengan kekeringan, punahnya keanekaragaman hayati, dll.

Inilah satu dari banyak contoh untuk memperlihatkan urgensi LS. Dari ilustrasi tersebut,  jalan keluar paling realistis untuk menyelamatkan lingkungan hidup dari tekanan kebutuhan manusia adalah perubahan gaya hidup.

Kita butuh pertobatan (LS.14), mengganti cara hidup boros yang melihat alam sebagai objek kepentingan materialistis menjadi alam sebagai ekosistem. Karena masifnya kerusakan alam, pertobatan dan perubahan gaya hidup harus dimulai sesegera mungkin (LS.53-59).

Pertobatan itu harus terjadi di tingkat individu maupun sistem. Di level individu, tiap orang dipanggil menghidupi spiritualitas solidaritas dengan alam dan sesama. Kesadaran kritis sangat dibutuhkan untuk menghadapi kampanye masif overproduction dari kapitalisme, termasuk mengambil jarak pada kampanye gaya hidup hedonistik lewat media massa (LS.203-208).

Di level kebijakan publik, inisiatif lokakarya Akademi Kepausan untuk Ilmu Sosial “Modern Slavery and Climate Change: the Commitment of the Cities” dan simposium “Prosperity, People, and Planet: Achieving Sustainable Development in Our Cities” di Vatikan, 21–22 Juli 2015, yang dihadiri para walikota sedunia menjadi upaya mendorong pembangunan yang lebih pro lingkungan.

Berbagai inisiatif itu harus didorong sebagai tanggung jawab Gereja lokal dalam memastikan terealisasinya pesan-pesan LS, yang menjadi imperatif moral bahwa Tuhan Sang Pencipta dapat dipuji dan dimuliakan saat kita memperlakukan alam dan sesama seperti Dia kehendaki. Segala ciptaan di bumi tak hanya baik adanya, tapi juga eksis dalam harmoni satu sama lain (YHW).

Related Posts

Ad Widget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *