Komjen Pol. Petrus Reinhard Golose : Ahli Cyber Crime Kepolisian

Ad Widget
Komjen Petrus Golose/Dok. Pribadi

Nusantaraaktual.com, Jakarta – Media sosial (medsos) berkembang begitu cepat.  Sejumlah informasi melalui unggahan status, membagi tautan berita, komunikasi lewat chat, audio/visual dan lainnya merupakan fitur-fitur unggulan yang dimedsos. Sayang penggunaan medsos terkadang dimanfaatkan sejumlah pihak untuk melakukan berbagai tindakan pidana: penipuan, pemalsuan, tayangan bermuatan pornografi, atau perbuatan sengaja menyebabkan pencemaran nama baik.

Wilayah privat pengguna jejaring sosial menjadi fakta menarik yang harus diperhitungkan para pengguna medsos.Kesadaran akan wilayah privat ini melahirkan adanya Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), diubah dengan UU Nomor 19 tahun 2016 (UU ITE).

Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam mencetuskan UU ITE adalah Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Petrus Reinhard Golose. Petrus berpendapat luasnya wilayah privat pengguna jejaring sosial dengan standar pencegahan yang minim menjadi fakta bahwa tidak mudah menghalau terjadinya berbagai tindak pidana. UU ITE ini hadir untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta memberi rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum. “Rasa aman bagi penggunaan teknologi dan informasi dapat berupa perlindungan hukum dari segala gangguan tindak pidana, baik secara verbal, visual maupun yang menyebabkan terjadinya kontak fisik,” sebut Petrus.

Mencegah Narkoba

Di Institusi Kepolisian, nama Petrus cukup terkenal.Kini ia menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) berdasarkan surat telegram dengan nomor ST 724/IV/Kep/2021, ST/725/IV/Kep/2021, dan ST 738/IV/2021 tertanggal 1 April 2021, Komjen Pol Petrus Golose dimutasi menjadi pati Bareskrim Polri. “Sebagai Kepala BNN, saya merasa ini tanggung jawab yang luar biasa dari Pak Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Menurut Petrus, Lembaga Pemerintah Non Kementerian ini wajib melaksanakan tugas pemerintahan dibidang pencegahan, pemberantasan penyalagunaan, dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif lainnya. Dasar hukum BNN adalah UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Narkoba, sambung Petrus adalah musuh bersama. Dari data yang dihimpun dari bnn.co.id, total kasus narkoba dari awal tahun 2021-sekarang adalah 16.325 kasus. Sedangkan total tersangka kasus narkoba adalah 22.178 dan total pasien penyalagunaan adalah 32.630.

“Bahkan pandemi Covid-19 tak menyurutkan upaya para bandar dan sindikat untuk mengedarkan narkoba. Sekalipun dalam kondisi sulit seperti sekarang, nyatanya ancaman peredaran narkoba tak pernah berhenti,” cetus Petrus.

Komjen kelahiran Manado 27 November 1965 ini meyakini bahwakeluarga berkewajiban untuk membangun nilai-nilai positif. Sebelum membina masyarakat maka wajib dibina terlebih dahulu adalah seluruh anggota keluarga di rumah. “Keluarga sebagai unit terkencil dari masyarakat juga harus mampu menanamkan nilai-nilai positif kepada seluruh anggotanya. Ini bisa meminimalisir penggunaan narkoba,” sebut Petrus.

Lanjutnya, “satu hal yang harus menjadi pegangan adalah nilai-nilai agama. Seseorang kalau kuat secara spiritual, saya meyakini bahwa orang itu pasti memiliki pertimbangan-pertimbangan matang sebelum bertindak. Paling tidak pertimbangan moral yang baik dan salah.”

Cyber CrimePolri    

Komjen Pol. Petrus sebelum mengembang amanat sebagai Kepala BNN sejak 23 Desember 2020, lulusan Akademi Kepolisian tahun 1988 ini berpengalaman di bidang reserse. Dalam bidang reserse, Petrus pernah tercatat ikut melumpuhkan gembong teroris kelas wahid yakni Dr. Azhari di Batu, Malang, Jawa Timurtahun 2005. Saat itu ia tergabung dalam Datesemen Khusus 88 Antiteror Polri.

Berkat keberhasilannya ini, Petrus kemudian diganjar kenaikan pangkat luar biasa ketika bergabung dengan Bareskrim. Prestasi ini didapatkan Petrus bersama sejumlah kolegianya yang kini telah menduduki posisi strategis baik di Institusi Polri maupun pemerintahan. Seperti Tito Karnavian eks Kapolri yang kini menjabat Menteri Dalam Negeri dan mantan Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis.

Selain berhasil membantu perkara kriminial kelas kakap, Petrus juga memiliki track record yang baik. Ia menjadi salah satu personil kepolisian yang memiliki kontribusi besar melahirkan UU ITE yang bagi Petrus dapat menjadi patokan dalam menghargai privasi dan bijaksana dalam penggunaan informasi dan elektronik.

Pengalaman Petrus di bidang reserse juga diacungi jempol. Ia turut sebagai Peace Keeping Force (UN Civpol) di Kamboja (1993) dan Bosnia (2000-2001). Ia berpartisipasi sebagai peserta dan pembicara dalam seminari, kursus, workshop yang berkaitan dengan money laundering, cybercrime,dan pemberantasan narkoba serta teroris baik dalam maupun luar negeri.

Kemahirannya dalam bidang diplomasi menjadikannya terlibat dalam penyelidikan internasional di Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Jepang, Timor-Timur, New Zealand, Kamboja, Thailand, dan Filipina. Sejak 2006, ia menjabat sebagai Kepala Unit V Informasi Teknologi dan Cybercrime Bareskrim Polri. “Saya pernah menangani kasus hacking di Indonesia seperti hacking website KPU dan hacking website Partai Golkar.Pengalaman saya ini saya tuangkan dalam buku seputar kejahatan hacking:sebuah teori dan studi kasus tahun 2008,” cerita Petrus.

Doktor Kajian Ilmu Kepolisian ini menambahkan, secara umum Direktorat Tindak Pidana Siber menangani dua kelompok kejahatan yakni computer crime dan computer-related crime.Computer crime adalah kejahatan siber yang menggunakan komputer sebagai alat utama. Kejahatannya adalah peretasan sistem elektronik (hacking), intersepsi ilegal, pengubahan tampilan situs web, gangguan sistem, dan manipulasi data. Sedangkan computer-related crime adalah kejahatan siber yang menggunakan komputer sebagai alat bantu seperti pornografi dalam jaringan, perjudian online, pencemaran nama baik, pemerasan dalam jaringan, penipuan online, ujaran kebencian, pengancaman dalam jaringan, akses ilegal, pencurian data, dan sebagainya.

Sebelum menjadi Kepala BNN, selama 4 tahun Petrus menjadi Kapolda Bali. Sejauh tugas itu juga ia menorehkan sejumlah prestasi di antaranya memberantas narkoba, menutup club Akasaka setelah ditemukannya 19 ribu pil ekstasi yang melibatkan manajer club. Ia juga menertibkan sejumlah ormas dan preman yang meresahkan di Bali. Selama 2019, ada 899 preman yang ditangkap dan 65 di antaranya dilanjutkan ke tahap penyelidikan. Ia bahkan menjadi Kapolda Bali terlama sejak zaman Reformasi.

“Dalam jenjang karir di Polri saya  meyakini satu hal:kerjakan saja semua itu, dan yakin semua akan indah pada waktunya. Ketika kita angkat tangan, Tuhan pasti turun tangan. Jangan pernah lupa akan kemahakuasaan-Nya jauh melebih segala kekuatan apapun,” demikian moto hidupnya (YHW)

Related Posts

Ad Widget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *