World Water Forum (WWF): Pemanfaatan Sumber Daya Air Dan Strategi Penyimpanan Energi

Ad Widget

Nusantaraaktual.com, Denpasar – World Water Forum (WWF) adalah acara global yang berfokus pada isu-isu terkait air, yang diadakan setiap tiga tahun sekali. Diselenggarakan oleh World Water Council, forum ini mengumpulkan pemangku kepentingan internasional, termasuk pemerintah, organisasi non-pemerintah, dunia usaha, dan peneliti, untuk mendiskusikan dan mengembangkan solusi terhadap tantangan air global. Dengan tujuan mendorong kebijakan terkait pencetusan dan penerapan kebijakan air yang efektif, menumbuhkan kolaborasi antar berbagai sektor dan wilayah untuk mengatasi permasalahan air, meningkatkan kesadaran tentang permasalahan air global dan perlunya pengelolaan air berkelanjutan, mempromosikan pertukaran solusi dan teknologi kreatif dan inovatif terkait pengelolaan sumber daya air.

Tema utama yang diusung pada WWF-10 ini adalah menjamin akses yang dapat diandalkan terhadap air yang cukup dan aman bagi semua, mengatasi dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air, menyelaraskan praktik pengelolaan air dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), meningkatkan tata kelola dan praktik pengelolaan air, sekaligus menjajaki mekanisme keuangan dan investasi untuk infrastruktur dan proyek air.

World Water Forum (WWF) Pertama pada 1997 di Marrakesh, Maroko yang berfokus pada memulai dialog mengenai isu-isu air global. Forum ke-8 (2018, Brasília, Brazil): Menekankan pentingnya air untuk pembangunan berkelanjutan. Forum ke-9 (2022, Dakar, Senegal): Menyoroti pentingnya ketahanan air untuk perdamaian dan pembangunan dan kini Indonesia (Bali) menjadi tuan rumah dan penyelenggara World Water Forum (WWF) ke-10 yang berfokus pada tema “AIR UNTUK KESEJAHTERAAN BERSAMA”.

World Water Forum (WWF) memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan dan praktik pengelolaan air pada level global. Forum ini menyediakan platform untul pertukaran pengetahuan, membantu menetapkan agenda air pada level global, dan mempengaruhi pengambilan keputusan di berbagai tingkatan pengambil kebijakan.

Penyelenggaraan konfrensi tingkat tinggi seperti ini seharusnya menarik dan memberi kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk mempelajari isu-isu terkini dan kemudian dapat turut memberi sumbangsih baik itu dalam bentuk pemikiran maupun aksi terkait isu-isu pembahasan global seperti krisis air bersih dimana sekitar 2.2 miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki akses ke air minum yang aman, lebih dari 4.2 miliar orang tidak memiliki akses ke sanitasi yang layak, yang meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air. Perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir serta kekeringan, yang mempengaruhi ketersediaan air, pencairan gletser akibat pemanasan global mengancam sumber air di banyak wilayah. Juga adanya pembuangan limbah tanpa pengolahan yang memadai mencemari sumber air, mengancam kesehatan manusia dan ekosistem, penggunaan pestisida dan pupuk dalam pertanian dapat mencemari air tanah dan sungai. Banyak negara menghadapi tantangan dalam mendistribusikan air secara adil, sering kali karena konflik atau infrastruktur yang buruk, penggunaan air yang tidak berkelanjutan dan bertanggung jawab, terutama terkait pertanian dan industri yang menguras sumber daya air. Terdapat juga fakta terkait penggundulan hutan, urbanisasi, dan perubahan tata guna lahan mengurangi kemampuan ekosistem untuk menyimpan dan memurnikan air, pengambilan air tanah yang berlebihan menyebabkan penurunan permukaan air tanah.

Indonesia perlu fokus dan serius pada dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut yang mengancam daerah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Perubahan iklim juga mempengaruhi pola curah hujan, yang menyebabkan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Banyak sungai di Indonesia tercemar oleh limbah domestik, industri, dan pertanian, sebagai contoh sungai Citarum di Jawa Barat misalnya yang dikenal sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia. Pencemaran plastik di perairan Indonesia, baik di sungai maupun laut, merupakan masalah besar yang mempengaruhi ekosistem yang super serius di masa mendatang.

Para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan perlu merumuskan solusi-solusi jangka pendek maupun jangka panjang terkait permasalahan-permasalahan yang ada, diantaranya terkat Peningkatan Infrastruktur; Investasi dalam infrastruktur pengolahan air dan distribusi, terutama di daerah pedesaan dan terpencil, Penguatan Kebijakan dan Tata Kelola; Meningkatkan koordinasi antar lembaga dan memastikan penegakan hukum yang ketat terhadap pencemaran air, Edukasi dan Kesadaran Publik; Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi air dan praktik sanitasi yang baik, Teknologi dan Inovasi; Mengadopsi teknologi baru untuk pengolahan air dan pemantauan kualitas air secara real-time, Kerjasama Internasional; Bekerjasama dengan negara lain dan berbagai organisasi internasional untuk berbagi pengetahuan dan teknologi serta mendapatkan dukungan finansial, inilah salah satu target dan tujuan menjadi penyelenggara KTT-WWF di Indonesia.

Bendungan: Upaya Peningkatan Ketahanan Air

Presiden Joko Widodo telah membangun dan meresmikan sejumlah bendungan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan ketahanan air, irigasi pertanian, dan pasokan listrik di seluruh negeri. Berikut adalah beberapa bendungan yang dibangun atau diresmikan selama masa jabatan Presiden Jokowi (2014-2024):

  1. Bendungan Jatigede (Jawa Barat) Lokasi: Kabupaten Sumedang, Jawa Barat Fungsi: Irigasi, pengendalian banjir, penyediaan air baku, dan pembangkit listrik tenaga air.
  2. Bendungan Raknamo (Nusa Tenggara Timur) Lokasi: Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  3. Bendungan Rotiklot (Nusa Tenggara Timur) Lokasi: Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  4. Bendungan Tanju (Nusa Tenggara Barat) Lokasi: Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  5. Bendungan Mila (Nusa Tenggara Barat) Lokasi: Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat Fungsi: Irigasi dan penyediaan air baku.
  6. Bendungan Gondang (Jawa Tengah) Lokasi: Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  7. Bendungan Sei Gong (Kepulauan Riau) Lokasi: Pulau Batam, Kepulauan Riau Fungsi: Penyediaan air baku untuk wilayah Batam dan sekitarnya.
  8. Bendungan Teritip (Kalimantan Timur) Lokasi: Kota Balikpapan, Kalimantan Timur Fungsi: Penyediaan air baku dan pengendalian banjir.
  9. Bendungan Sindangheula (Banten) Lokasi: Kabupaten Serang, Banten Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  10. Bendungan Bendo (Jawa Timur) Lokasi: Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  11. Bendungan Tukul (Jawa Timur) Lokasi: Kabupaten Pacitan, Jawa Timur Pembangunan bendungan-bendungan ini merupakan bagian dari program nasional untuk membangun 65 bendungan baru selama dua periode masa jabatan Presiden Jokowi.
  12. Bendunganbendungan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, menyediakan air bersih bagi masyarakat, mengurangi risiko banjir, dan mendukung pembangkit listrik tenaga air yang ramah lingkungan, terbarukan dan berkelanjutan tentunya. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau hydro power adalah fasilitas yang menggunakan energi kinetik dan potensial air untuk menghasilkan listrik. Air yang mengalir atau jatuh melalui turbin menggerakkan generator yang menghasilkan listrik. Terdapat beberapa jenis PLTA berdasarkan skala dan metode penggunaannya: Indonesia harus memanfaatkan dan memaksilkan potensi pengembangkan PLTA di bendunganbendungan maupun fasilitas terkait sumber daya air yang telah dibangun dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Dengan demikian kita juga sekaligus berupaya meningkatkan penggunaan Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  13. Bendungan Napun Gete (Nusa Tenggara Timur) Lokasi: Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  14. Bendungan Kuwil Kawangkoan (Sulawesi Utara) Lokasi: Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara Fungsi: Penyediaan air baku, pengendalian banjir, dan pembangkit listrik tenaga air.
  15. Bendungan Tapin (Kalimantan Selatan) Lokasi: Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
  16. Bendungan Ladongi (Sulawesi Tenggara) Lokasi: Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara Fungsi: Irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (Hydro Power)

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau hydro power adalah fasilitas yang menggunakan energi kinetik dan potensial air untuk menghasilkan listrik. Air yang mengalir atau jatuh melalui turbin menggerakkan generator yang menghasilkan listrik. Terdapat beberapa jenis PLTA berdasarkan skala dan metode penggunaannya:

  • PLTA Konvensional (Large-Scale Hydro): PLTA ini biasanya menggunakan bendungan besar untuk menyimpan air di reservoir. Air dari reservoir dialirkan melalui turbin untuk menghasilkan listrik. Contoh: PLTAJatiluhur di Indonesia, PLTA Three Gorges di China.
  • Run-of-River Hydro: Jenis ini tidak memerlukan bendungan besar dan menggunakan aliran air sungai yang terus menerus untuk menggerakkan turbin. Contoh: PLTA Sigura-gura di Sumatera Utara, Indonesia.

Indonesia harus memanfaatkan dan memaksilkan potensi pengembangkan PLTA di bendunganbendungan maupun fasilitas terkait sumber daya air yang telah dibangun dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Dengan demikian kita juga sekaligus berupaya meningkatkan penggunaan.

Energi terbarukan, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan memperluas akses listrik ke seluruh wilayah, hingga daerah-daerah terpencil. Pemanfaatan energi terbarukan bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca yang merupakan penyebab utama perubahan iklim. Dengan menurunkan emisi CO2, kita bisa memperlambat laju pemanasan global. Mengelola berbagai potensi energi bersih dan terbarukan adalah kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan meminimalkan emisi gas rumah kaca, memperkuat ketahanan energi, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan mendukung keberlanjutan ekonomi dan ekosistem, kita bisa membangun masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan. Upaya ini juga mendukung komitmen global dalam mengatasi perubahan iklim dan memastikan bahwa sumber daya alam dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Selain kemampuan menghasilkan energi, Indonesia juga perlu memaksilkan upaya pengamanan dan/atau penyimpanan energi yang kemudian dapat digunakan secara bijak pada saat dibutuhkan.

Pumped Hydro Storage (PHS)

Adalah bentuk penyimpanan energi yang cocok disinergikan dengan ketersedian infratruktur sumber daya air yang ada dan tersebar di seluruh Indonesia. PHS menggunakan dua reservoir air pada ketinggian berbeda untuk menyimpan dan menghasilkan listrik. Sistem ini bekerja dengan cara memompa air dari reservoir bawah ke reservoir atas ketika permintaan listrik rendah (biasanya menggunakan energi surplus atau energi murah). Kemudian, air dari reservoir atas dilepaskan kembali ke reservoir bawah melalui turbin ketika permintaan listrik tinggi, menghasilkan listrik

Herman Umbu Billy
CEO Sumbamedia Hub & Civilarc.Id/Mahasiswa Magister Inovasi Sistem & Teknologi Energi Terbarukan Institut Sepuluh Nopember Surabaya
(Bali, 16 Mei 2024)

 

Related Posts

Ad Widget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *